Laman

Entri Populer

Senin, 23 April 2012

Keutamaan Haji Mabrur



Keutamaan Haji Mabrur
Rasulullah Saw. bersabda:

“Umrah ke umrah menghapus dosa antara keduanya, dan tidak ada pahala bagi haji mabur kecuali surga.” (Muttafaq Alaihi)

Dari Aisyah r.a., ia berkata, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, menurut kami jihad adalah amal perbuatan yang paling utama. Bolehkah kami terus-menerus berjihad?’ Kemudian beliau bersabda, ‘Tetapi jihad yang paling utama adalah haji mabrur.” (HR. Bukhari)

Abu Hurairah r.a. berkata, “Nabi ditanya, ‘Amal apakah yang lebih utama?’ Beliau bersabda, ‘Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Ditanyakan, ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda, ‘Berjuang di jalan Allah.’ Ditanyakan, ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda, ‘Haji yang mabrur.” (HR. Bukhari)

Ibadah haji adalah ibadah yang berat. Tidak semua orang Islam mampu mengerjakannya. Di samping membutuhkan biaya yang tidak sedikit, juga dibutuhkan kemampuan fisik atau kesehatan yang baik. Itulah kenapa haji yang mabrur termasuk jihad yang paling utama. Meskipun berat, setiap orang Islam harus mempunyai niat dan cita-cita untuk bisa mengerjakan ibadah haji. Sebab, di samping merupakan rukun Islam, mengerjakan ibadah haji juga besar sekali pahalanya. Bagi orang yang hajinya mabrur akan dicatat termasuk orang yang telah mengerjakan amal yang lebih utama dan tiada balasan baginya kecuali surga.

Orang yang ketika mengerjakan haji tidak berkata kotor dan tidak berbuat maksiat, maka dosa-dosanya diampuni, sehingga ketika kembali ia seperti pada saat dilahirkan oleh ibunya, yakni tanpa dosa. Hal ini sebagaimana Rasulullah Saw. telah bersabda, “Barangsiapa datang (haji) ke Baitullah ini lalu tidak berbicara kotor dan tidak berbuat maksiat, maka ia akan kembali seperti ketika dilahirkan oleh ibunya.” Hadits ini ada dalam Shahih Muslim.

Menurut Imam Nawawi, tanda-tanda haji mabrur adalah bahwa sepulang dari haji, orang tersebut menjadi lebih baik dari sebelumnya dan tidak mengulangi lagi perbuatan-perbuatan maksiat yang pernah dilakukannya.

Kepribadian Muslim Ideal (Syaksiyyah Islamiyah Mutakamilah)


Al-Qur’an dan sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah SAW yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang saleh. Pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah SWT.
Persepsi (gambaran) masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah. Padahal itu hanyalah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga dapat menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.Bila disederhanakan, setidaknya ada sepuluh karakter atau ciri khas yang mesti melekat pada pribadi muslim.
1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)
Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam” (QS. 6:162). Karena aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid.
2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. 68:4).
4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)
Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi. Namun jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk hal yang penting, maka Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)
5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)
Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ” pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS 2:219)
Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas.
Bisa dibayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.
Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang, sebagaimana firman Allah yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”‘, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS 39:9)
6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)
7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.
Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.
Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.
Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat , berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.
9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)
Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.
Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.
10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
Nafi’un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.
Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).

Jangan jadi Aktivis Dakwah 1/2 Hati

Jangan jadi Aktivis Dakwah 1/2 Hati 
Siapkan Dirimu Wahai Pejuang!
Samudera kehidupan senantiasa menampilkan ombak-ombak yang besar namun indah dan teratur. Ia bagaikan menari dalam lautan luas dan hendak menyeru kepada manusia tentang kehebatan dan keindahan dirinya yang diiringi dengan deru suara yang menakutkan namun kadang menyejukkan. Dalam keadaan tertentu, ombak begitu tenang dengan hembusan semilir angin yang menyapa hangat. Namun, kadang ia datang dengan gemuruh yang membahana, menjulang tinggi menghempaskan dirinya dalam samudera yang luas, seakan-akan menantang manusia untuk menyeberangi dan mengarungi samudera kehidupan.
Manusia sebagai makhluk yang diciptakan dengan segala kesempurnaannya oleh Allah Azza wa jala, dengan karunia akal dan hati, mau tidak mau harus melalui Samudera itu, dalam kondisi tenang ataupun penuh dengan hempasan ombak yang tinggi menjulang. Manusia dengan segala keperkasaan dan kesombongannya harus melaluinya, karena itulah satu-satunya jalan yang harus dilalui untuk sampai ke tujuannya yang sebenarnya. Senang atau tidak, kita pasti akan melaluinya, apapun diri kita, siapa pun diri kita.
Kehidupan mempunyai aturan dan syarat, mempunyai pedoman dan petunjuk, mempunyai cara tersendiri untuk mengajarkan dan memberikan pengalaman dalam mengarungi kehidupan.
Itulah gambaran perjalanan dakwah ini. Terkadang jalan ini begitu mulus, tenang, nyaman tanpa beban dan cobaan. Namun suatu saat ia datang dengan membawa berbagai masalah, penuh rintangan, dihiasi dengan cacian dan hinaan.
Oleh karena itu, kita harus menyiapkan bahtera terbaik dan terkuat yang bisa dengan gagah dan perkasa menghadapi ombak, badai, dan hujan disertai petir. Tidak hanya itu, kita juga harus menyiapkan perbekalan yang cukup untuk sampai ke tujuan, bahan penggerak dan tentu saja para awak yang bahu membahu dan saling tolong menolong dalam menjalankan bahtera kehidupan.
Perjalanan dakwah harus disiapkan dengan sebaik-baiknya, dengan kesungguhan dan kekuatan tekad, karena dihadapannya telah menanti tantangan, cobaan dan ujian mulai dari hal yang kecil sampai kepada hal yang besar. Oleh karena itu, beberapa hal harus kita siapkan sebelum, saat atau sesudah kita terjun dalam jalan dakwah ini.
Jikalau kita belum terjun atau masih belum punya persiapan untuk menjadi seorang penyeru dakwah, maka jangan menunggu lebih lama, karena kita adalah dai sebelum menjadi apapun. Persiapkan diri kita, karena ini adalah jalan kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan.
Jikalau kita sudah terjun dalam suatu jamaah dakwah dan merasa minder atau tidak punya kapasitas ilmu agama yang cukup, jangan terpuruk pada paradigma, dakwah adalah perbaikan, maka kita harus terus memperbaiki diri kita sejalan dengan aktivitas dakwah yang kita jalankan, perbaiki dan persiapkan diri, dengan bekal ilmu, iman dan amal ibadah kita. Ilmu dan amal senantiasa beriringan dan tidak bisa dipisahkan.
- Persiapan Internal
Kuatkan Ruhiyahmu
Sebuah pohon yang tumbuh subur, rindang, banyak bunga dan buahnya serta bermanfaat bagi kehidupan membutuhkan perawatan yang teratur. Selain itu, lahan atau tanah yang digunakan harus baik dan kondusif bagi pertumbuhan pohon tersebut.
Tanah yang baik adalah tanah yang memiliki kandungan dan zat-zat yang dibutuhkan dalam perkembangan benih pohon. Tanah yang terjaga dari berbagai hama dan sesuatu yang merusak serta menghancurkan. Selain itu, harus dapat terkena dengan sinar matahari dan udara yang cukup.
Setelah mempersiapkan tanah yang baik, selanjutnya adalah memilih benih yang baik agar mampu menghasilkan dan menumbuhkan benih-benih dakwah, melahirkan tunas-tunas baru yang siap melanjutkan estafet dakwah dalam membangun umat. Dan komponen-komponen tersebut adalah:
  • Iman (akar)
  • Ikhlas (batang)
  • Sabar (buah)
  • Optimis (Bunga)
Mu’ahadah (Mengingat Perjanjian)
“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. An Nahl: 91)
Muraqabah (Merasa diawasi)
“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (QS. Asy Syu’ara: 218-219)
Muhasabah (Evaluasi Diri)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18)
Mu’aqabah (Pemberian sanksi)
Mujahadah (Optimalisasi)
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Ankabut: 69)

KH Imam Zarkasy

KH Imam Zarkasyi Pendiri Pondok Modern Gontor Ponorogo

" لقد كنت ـ ولا زلت ـ أقول للإخوان فى كل مناسبة : إنكم لن تغلبوا من قلة عددكم ، ولا من ضعف وسائلكم ، ولا من كثرة خصومكم ، ولا من تألب الأعداء عليكم ، ولو تجمع أهل الأرض جميعًا ما استطاعوا أن ينالوا منكم إلا ما كتب الله عليكم .. ولكنكم تغلبون أشنع الغلب ، وتفقدون كل ما يتصل بالنصر والظفر بسبب : إذا فسدت قلوبكم ، ولم يصلح الله أعمالكم ، أو إذا تفرقت كلمتكم ، واختلفت آراؤكم ، أما ما دمتم على قلب رجل واحد متجه إلى الله تبارك وتعالى ، آخذ فى سبيل طاعته ، سائر على نهج مرضاته ، فلا تهنوا أبدًا ، ولا تحزنوا أبدًا وأنتم الأعلون " والله معكم ولن يتركم أعمالكم ".

الامام البنا.

طبيعة دعوتنا البناء

طبيعة دعوتنا البناء.. وليس من طبيعتها الهدم فليطمئن الزعماء 



السلام عليكم ورحمة الله وبركاته..

سأتحدث إليكم الآن كتابةً- وقد كنت أشافهكم- ليكون القولُ أضبطَ والتعبيرُ أدقَّ وأبينَ لما أريد أن أطرحه أمام حضراتكم من فكرٍ بمناسبة هذه الخطوات الجديدة التي تخطوها دعوتنا الموفقة في طريق الخير إلى الغاية المنشودة، ويسرني أن أقول لكم هنا إن دعوتنا تسير إلى الإمام، وها أنتم ترون تقدمها في القاهرة وهي في الأقاليم أوسع تقدمًا، والحمد لله رب العالمين.

ولقد لفت هذا التقدم أنظار الناس إليكم، وتركهم يتساءلون عنكم، وترككم أملاً من آمال طلاب الإصلاح الصحيح في بلدنا الناهض، ورجاءً لأهل الإيمان والذين يريدون الخير بالإسلام وأهله، فاحمدوا الله على هذا الفضل وسلُوه دائمًا أن يسدِّد خُطانا، وأن يتقبَّل منا، وألا يتركنا إلى أنفسنا، واعلموا أنها تبعةٌ جديدةٌ تلقَى على كواهلكم، وسأتحدث إليكم في نقاط ثلاث أولها: دعوتنا، وثانيتها: موقفنا الذي يجب أن يكون بالنسبة للهيئات التي تعمل للمصلحة العامة، وثالثها: تقسيم العمل فيما أرى.. والله أسأل التوفيق والتسليم. 


أولاً: طبيعة دعوتنا



لكل دعوة خصائص، ومن خصائص دعوة الإخوان- فيما أعتقد- أمورٌ تحقَّق بعضها، ونغفل عن البعض الآخر، وحبَّذا لو لاحظنا الجميع حتى يكون النجاح تامًّا والتوفيق كاملاً إن شاء الله.

من هذه الخصائص : الإيجابية والبناء، فدعوتنا تبني ولا تهدم، وتأخذ بالإيجاب دائمًا، فعلينا أنفسنا قبل كل شيء.

ومن خصائصها: مطابقة العمل للقول؛ فعلينا أن ندرس قانوننا وفيه الكفاية ويتحقق بما يقول.

ومن خصائصها: الربانية؛ فعلينا أن نُديم صلتنا بالله ما استطعنا لذلك سبيلاً بدوام الذكر والدعاء بالمأثور، وفي رسالة "المأثورات" غناء.

ومن خصائصها: التجمع؛ فعلينا أن نتجمَّع دائمًا، وأن نتشوَّف إلى اللقاء، وأن نشعر بحقوق الأخوة.

ومن خصائصها: الاحتمال والكفاح؛ فلنريِّض أنفسنا على ذلك، ولتتسع صدورنا لكل شيء، هذه مجملات تفصيلها تعلمونه جميعًا، ويجمعها جميعًا البناء والعمل فاعملوا. 

ثانيًا: موقفنا من الدعوات الأخرى

موقفنا من الدعوات في هذا البلد دينية واجتماعية واقتصادية وسياسية -بناء على طبيعة دعوتنا- موقف واحد -على ما أعتقد- نتمنى لها جميعًا الخير، وندعو لها بالتوفيق، وإن خير طريق نسلكها ألا يشغلنا الالتفات لغيرنا عن الالتفات لأنفسنا، إننا في حاجة إلى عدة وإلى تعبئة، وإن أمتنا -والميادين الخالية فيها- محتاجة إلى جنود وإلى جهاد، فالوقت لا يتسع لنتطلع إلى غيرنا ونشتغل به، كل في ميدانه، والله مع المحسنين حتى يفتح الله بيننا وبين قومنا بالحق.

ستسمعون أن هيئةً من الهيئات تتحدث عنكم؛ فإن كان هذا الحديث خيرًا فاشكروا لها في أنفسكم، ولا يخدعنَّكم ذلك عن حقيقتكم، وإن كان غير ذلك فالتمسوا لها المعاذير، وانتظروا حتى يكشف الزمن الحقائق، ولا تقابلوا هذا الذمَّ بذمٍّ مثله، ولا يشغلنَّكم الردُّ عليه عن الجدِّ فيما أخذتم أنفسكم بسبيله، وثِقوا أن ذلك لن يصرف عنكم ولا يضركم ﴿وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ﴾ (آل عمران: من الآية 186).

وستسمعون أن هيئةً تتهمكم بالاتصال بهيئات أخرى تكرهها أو تصادمها؛ فلا تهتموا بذلك أيضًا، ولا تحاولوا أن تزيلوه أو تُثبتوه؛ فإن على المتهِم أن يُثبت والبينة على من ادَّعى، والأمر لا يتعدَّى أحد موقفين؛ إما أن يكون هذا المتهِم جادًّا فيحاول أن يتأكد ويتثبَّت، وسيؤديه تثبُّته ولو بعد حين إلى معرفة حقيقة دعوتكم، وأنكم لا تتصلون إلا بالله ورسوله، ولا تعملون إلا للإسلام وأهله، وإما غير جادٍّ فيما يقول، وإنما هو يتسلَّى بالتهم ويتلذَّذ بالغيبة، فهذا لن يضرَّكم أمره شيئًا، فدعوه يتروَّح بهذا القول ما شاء له التروُّح، وسلوا الله تعالى لنا وله الهداية والتبصرة.

وستسمعون أن قومًا يريدون أن يتَّصلوا بكم أو أن تتَّصلوا بهم من أهل العمل العام، إما صادقين أو غير صادقين، فأحب أن أقول لكم هنا بكل وضوح إن دعوتكم هذه أسمى دعوة عرفتها الإنسانية، وإنكم ورثة رسول الله صلى لله عليه وسلم وخلفاؤه على قرآن ربه، وأمناؤه على شريعته، وعصابته التي وقفت كل شيء على إحياء الإسلام في وقت تصرَّفت فيه الأهواء والشهوات وضعفت عن هذا العبء الكواهل، وإذ كنتم كذلك فدعوتكم يتبعها الناس ولا تأتي هي أحدًا، وتستغني عن غيرها؛ إذ هي جماع كل خير، وما عداها لا يسلم من نقص، إذن فأقبلوا على شأنكم، ولا تساوموا على منهاجكم، واعرضوه على الناس في عز وقوة، فمن مدَّ إليكم يده على أساسه فأهلاً ومرحبًا في وضح الصبح وفلق الفجر وضوء النهار، أخٌ لكم يعمل معكم ويؤمن إيمانكم وينفذ تعاليمكم، ومن أبى ذلك فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه. 

أيها الإخوان..

لا تستعجلوا، فلا زال الوقت أمامكم فسيحًا وستكونون المطلوبين لا الطالبين، فإن العزة لله جميعًا، ولتعلمن نبأه بعد حين.

ذلك فيما أرى ما يجب أن يكون من موقفنا أمام الهيئات جميعًا نريد لها الخير ونلتمس لها العذر ولا نطلب ولا نرد، ﴿وَلاَ تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلاَمَ لَسْتَ مُؤْمِنًا﴾ (النساء: من الآية 94)